KONI Kota Jambi

Merajut Prestasi, Bukan Sensasi. UKT Taekwondo Kota Jambi Menjadi Cermin Pembinaan Atlet

Di saat berbagai cabang olahraga kerap disibukkan dengan dinamika organisasi, Taekwondo Indonesia (TI) Kota Jambi memilih tetap berjalan pada rel yang semestinya: membina atlet. Sebab, bagi insan taekwondo, prestasi tidak lahir dari hiruk-pikuk perdebatan, melainkan dari proses panjang yang ditempa di dojang melalui latihan, disiplin, dan ketekunan.

Semangat itulah yang begitu terasa dalam Ujian Kenaikan Tingkat (UKT) Geup Taekwondo Kota Jambi Periode Juli 2026 yang digelar di Dojang Pengprov Taekwondo Indonesia Jambi. Sebanyak 830 atlet dari 36 klub se-Kota Jambi mengikuti tahapan penting dalam perjalanan mereka sebagai taekwondoin.

Angka tersebut bukan sekadar statistik. Di balik ratusan peserta itu tersimpan ribuan jam latihan, pengorbanan para orang tua yang setia mengantar anak-anaknya ke dojang, dedikasi para pelatih yang tanpa lelah membimbing, serta komitmen setiap klub dalam menjaga kesinambungan pembinaan. Semua berpadu dalam satu tujuan, yakni membangun generasi atlet yang tangguh, berkarakter, dan berprestasi.

Seperti yang disampaikan Hendry Juanda, Ketua Caretaker Pengprov TI jambi. UKT sendiri bukanlah seremoni pergantian warna sabuk. Dalam filosofi Taekwondo, setiap kenaikan tingkat merupakan pengakuan atas perkembangan kemampuan teknik, kedisiplinan, mental, etika, dan tanggung jawab seorang atlet. Sabuk baru bukanlah garis akhir, melainkan awal dari tantangan yang lebih besar. Mengangkat tema “Merajut Prestasi, Bukan Sensasi,

” Kegiatan ini menyampaikan pesan yang sederhana namun sangat kuat. Kemajuan olahraga tidak dibangun melalui kontroversi, ego, ataupun pencitraan sesaat. Prestasi hanya akan lahir dari kerja nyata, pembinaan yang konsisten, organisasi yang sehat, dan komitmen seluruh elemen untuk bergerak ke arah yang sama.” Ujarnya.

Hendry Juanda, SH juga menegaskan, bahwa UKT merupakan salah satu fondasi terpenting dalam sistem pembinaan Taekwondo. Menurutnya, organisasi boleh mengalami dinamika, tetapi pembinaan atlet tidak boleh berhenti. Atlet adalah masa depan Taekwondo Indonesia. Karena itu, setiap program yang menyentuh kepentingan atlet harus menjadi prioritas utama.

” Setiap warna sabuk bukan sekadar lambang tingkatan kemampuan, melainkan amanah yang harus dijaga. Seorang taekwondoin dituntut tidak hanya menguasai tekhnik, tetapi juga menjunjung tinggi nilai kesopanan, integritas, sportivitas, disiplin, dan rasa hormat yang menjadi filosofi utama Taekwondo.” Tambah Juanda.

Kegiatan tersebut turut dihadiri oleh Ketua KONI Kota Jambi, Antoni Gumay, serta Ketua Pengkot Taekwondo Indonesia Kota Jambi, Wiwin Arif, SE. Kehadiran para pemangku kepentingan olahraga tersebut menjadi simbol bahwa pembinaan atlet merupakan tanggung jawab bersama yang harus terus dijaga.

Sementara itu, Ketua KONI Kota Jambi Antoni Gumay mengapresiasi tingginya antusiasme peserta. Menurutnya, kehadiran 830 atlet dari 36 klub menjadi indikator bahwa pembinaan Taekwondo di Kota Jambi berkembang dengan baik. Jumlah tersebut menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap olahraga Taekwondo sekaligus menjadi modal besar dalam mencetak atlet yang mampu mengharumkan nama Kota Jambi di tingkat provinsi, nasional, hingga internasional.

Senada dengan Ketua Pengkot TI Kota Jambi, Wiwin Arif, SE, bahwa UKT bukan sekadar agenda rutin organisasi, melainkan instrumen evaluasi untuk mengukur keberhasilan pembinaan di setiap klub. Ia berharap seluruh pelatih terus meningkatkan kualitas pembinaan sehingga lahir atlet-atlet yang unggul secara teknik, kuat secara mental, serta memiliki karakter dan etika yang baik sebagai insan olahraga.

Pelaksanaan UKT berlangsung tertib, penuh semangat, dan menjunjung tinggi nilai sportivitas. Para peserta mengikuti berbagai materi pengujian mulai dari teknik dasar, poomsae, tendangan, koordinasi gerak, ketangkasan, kedisiplinan, hingga pemahaman terhadap filosofi Taekwondo sesuai standar kenaikan tingkat. Setiap tahapan dirancang agar atlet benar-benar layak menyandang sabuk berikutnya melalui kemampuan yang diperoleh dari proses latihan yang berkesinambungan.

Terlihat pelaksanaan UKT kali ini adalah semangat persaudaraan. Di dalam dojang, tidak ada sekat antar klub. Semua hadir sebagai satu keluarga besar Taekwondo Indonesia yang saling mendukung, saling menghormati, dan saling memotivasi untuk menjadi lebih baik. Inilah nilai luhur Taekwondo yang sesungguhnya, yakni membentuk manusia yang kuat bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara moral.

” Keberhasilan penyelenggaraan UKT Juli 2026 menjadi bukti bahwa pembinaan atlet di Kota Jambi terus berjalan dengan baik. Ketika organisasi, pelatih, atlet, orang tua, dan seluruh pemangku kepentingan mampu bersatu dalam satu visi, maka yang lahir bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan investasi besar bagi masa depan olahraga Taekwondo di Provinsi Jambi. Prestasi tidak pernah lahir secara instan. Tapi dibangun dari latihan yang berulang, disiplin yang konsisten, kerja keras yang tak kenal lelah, serta kesabaran dalam menjalani setiap proses. Karena itu, warna sabuk boleh berganti, generasi atlet akan terus silih berganti, tetapi nilai-nilai disiplin, kerja keras, rasa hormat, dan semangat pantang menyerah harus tetap menjadi identitas setiap insan Taekwondo. Itulah makna sesungguhnya dari semangat “Merajut Prestasi, Bukan Sensasi”—membangun masa depan Taekwondo melalui pembinaan yang berkelanjutan, bukan melalui kegaduhan yang sesaat.” Papar Wiwin Arif., SE. (serumpuntimur.com)

share :